Forum

Loss Prevention In Underwear Store: Research, Data, Analysis, Development And Application  

  RSS

Azlan Shah
(@admin)
Eminent Member Admin
Joined: 3 years  ago
Posts: 36
02/01/2018 9:37 pm  

Originally researched by Azlan Shah on February 5, 2015 in Banda Aceh for ET Store Banda Aceh.

Abstract:

Shoplifting happens every day in the world that we can not avoid. This happens because people tend to get the things their wanted easier by stealing rather than waste their own money to buy. It is all make sense when actual risk of being caught is very minimal to get the things you wanted.

See it this way, rather than doing hardwork to make money all day in a month just to spend on some items at store, it would be profitable to just do shoplifting on our liking. No hardwork included, just have some risk that even we could negotiate. Of course the store should have negotiated, the risk of their brand is on the horizon. They can not make people afraid go to their store or offend anybody although it would look professional.

In this paper i will present the main idea about preventing shoplifting which is to make costumers aware that shoplifting is dangerous where the calculation of risk and profit will not go in shoplifters favor. Rather than to catch the shoplifters, it is better to prevent the potential situation at all for the goods of branding of the store.

The rules as just important thing to know about in pasal 362 KUHP, pasal 364 KUHP and Restorative Justice which we will be describing more of them in the rules section which could gave us clear references how to approach, prevent, react as Loss Prevention Supervisor on potential shoplifters in an advantage position to responsible more when it is needed on court.

Keywords : shoplifting, shoplifters, loss prevention, loss prevention supervisor, store security, preventing shoplifting, exclusivity;

*1 shoplifters is a person who steals goods from a shop during shopping hours

(Collins English Dictionary – Complete and Unabridged © HarperCollins Publishers 1991, 1994, 1998, 2000, 2003)

*2 exclusivity means

adj.                                                        

  1. Excludingor tending to exclude: exclusive barriers.
  2. Notallowing something else; incompatible: mutually exclusive conditions.
  3. Notdivided or shared with others: exclusive publishing rights.
  4. Notaccompanied by others; single or sole: your exclusive function.
  5. Complete;undivided: gained their exclusive attention.
  6. Notincluding the specified extremes or limits, but only the area between them: 10-14, exclusive; that is, 11, 12, and 13.
  7. Excludingsome or most, as from membership or participation: an exclusive club.
  8. Cateringto a wealthy clientele; expensive: exclusive shops.

(American Heritage® Dictionary of the English Language, Fifth Edition. Copyright © 2011 by Houghton Mifflin Harcourt Publishing Company. Published by Houghton Mifflin Harcourt Publishing Company. All rights reserved).

BAB I Pengolahan Data

1. Latar Belakang

Permasalahan yang sering kali muncul adalah adanya shoplifters*1 yang mengambil barang yang dijual di dalam toko, baik itu yang digantung, terdapat dalam rak, melalui kamar ganti, sehingga mengakibatkan kerugian bagi pemilik toko.

Sebagai pemilik toko, tindakan pencurian yang dilakukan oleh para shoplifters, tentu mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit, apalagi kalau tindakan ini terjadi berulang kali, oleh pelaku yang sama atau tidak. Toko celana dalam tentu menjadi tempat yang tepat bagi para shoplifters dikarenakan celah yang relatif lebih banyak dari pada toko-toko pakaian lainnya.

2. Pelaku

Mengapa Terjadi?

Kalau dilihat dari perspektif shoplifters saat mengunjungi toko, barang yang terdapat dalam toko, jika tanpa pengawasan, tentu shoplifting menjadi a risk worth taking terutama bagi calon pembeli yang punya buying power yang tinggi sekalipun.

Lain hal jika toko tersebut memiliki banyak pengawasan yang juga disadari oleh calon pembeli seperti adanya kamera pengawas CCTV, karyawan yang mengawasi dll sehingga calon shoplifters mengurungkan niat untuk melakukan tindakan shoplifting.

loss prevention essay graphic
Semakin keemasan warna, menandakan semakin besar kecenderungan terjadi shoplifting.

Resiko yang semakin kecil dan potensial nilai barang yang semakin besar memberikan keuntungan yang lebih besar dalam melakukan tindakan shoplifting.

Jadi bagaimana mengantisipasi tindak shoplifting? 2 poin dari grafik diatas yaitu nilai barang dan resiko bisa kita olah sehingga kemungkinan potensial shoplifting bisa kita perkecil. Yaitu dengan cara :

  1. Nilai barang di toko yang diperkecil
  2. Resiko yang diperbesar

Kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat pelaku, namun juga karena ada kesempatan

Bahkan bisa saja calon pembeli yang niat awalnya membeli barang, namun terdapat situasi yang mendorong untuk melakukan shoplifting, sehingga dia mengambil resiko untuk melakukan itu walaupun dia punya uang. Barang gratis dengan sedikit resiko tentu lebih menguntungkan.

Pihak Luar

Pihak luar disini adalah pihak yang keluar masuk melalui pintu utama. Yaitu tentu para calon pembeli. Ada 2 tipe shoplifters dari pihak pembeli :

  • Low spending power : tidak mampu beli, namun ingin memiliki. Sehingga ditempuhlah jalan pintas yaitu dengan shoplifting.
  • High spending power : yang ini lebih sulit ditangani, karena mereka educated, pintar. Sehingga celah yang mereka eksploitasi juga bervariasi. Dan lebih berani.

Pola sirkulasi calon pembeli:

Ilustrasi pola aktivitas pembeli
Ilustrasi pola aktivitas pembeli

Pihak Karyawan

Lain lagi dengan pihak karyawan. Mereka bisa bebas bergerak, keluar masuk ruang dan bangunan toko. Pola sirkulasi karyawan:

Ilustrasi pola sirkulasi karyawan
Ilustrasi pola sirkulasi karyawan

Employee theft tidak saya bahas untuk kali ini.

3. Lingkungan

Situasi yang memungkinkan

Tanpa penjagaan, pengawasan, pelayanan toko yang tidak cukup baik adalah faktor-faktor yang menimbulkan situasi yang berpihak pada shoplifters. Contoh pelayanan yang baik di Banda Aceh, saya lihat dari toko Sport Station di Jambo Tape. Sport Station adalah toko peralatan olahraga, dikemas dengan sangat baik. Dikarenakan juga target konsumen mereka adalah kalangan menengah keatas. Dengan barang yang disediakan juga relatif mahal dan kualitas original.

Toko seperti ini cukup langka terutama yang menjual sepatu dan alat-alat olahraga original dengan merek terkenal di Banda Aceh. Setahu saya sampai saat ini hanya Sport Station dan Suzuya di Setui yang menjual sepatu dan alat-alat olahraga original dengan merek terkenal di Banda Aceh.

Di Sport Station, calon pembeli langsung disambut oleh pegawai toko dan terus menemani dan melayani sampai calon pembeli selesai berbelanja. Bahkan setelah selesai berbelanja, pegawai toko tadi menunggu di pintu keluar sambil membawa barang belanjaan dari kasir. Mereka mempunyai prosedur pelayanan yang baik yang berimbas pada minim-nya eksklusifitas*2 bagi calon pembeli.

Kamar ganti

Tentu saja menjadi wilayah yang sulit untuk diawasi dan menjadi tempat paling eksklusif bagi calon pembeli. Akan lebih bijak dengan ada langsung karyawan yang menghandle konsumen yang ingin menggunakan kamar ganti.

Antisipasi barang-barang yang tidak diinginkan untuk di coba di fitting room dan tahu barang-barang apa saja yang mereka bawa masuk ke kamar ganti.

Ukuran dan harga barang

Ukuran barang yang kecil tentu menjadi mudah masuk kantong shoplifters. Lebih baik Item-item kecil untuk ditempatkan di counter kasir toko.

Ukuran dan bentuk ruang bangunan

Ukuran dan bentuk ruang juga menjadi masalah, apabila terdapat ruang yang sulit terlihat. Bagian ruang yang sulit terlihat dapat diantisipasi dengan memperbanyak karyawan jaga, namun akan meningkatkan biaya operasional toko.

Hal yang sama juga bisa terjadi untuk lantai yang banyak. Penggunaan cermin di sekeliling toko tentu membantu untuk pengawasan ruang secara menyeluruh.

4. Keuangan Perusahaan

Biaya Operasional

  • Biaya operasional toko : biaya sewa, air, listrik, periklanan, suplai barang, asuransi.
  • Biaya operasional pegawai : gaji pokok, tunjangan kesehatan, transportasi, bonus.

Potensial Kerugian

  • Potensial kerugian terhitung dari setiap item yang hilang + keuntungan pada penjualan dari item yang hilang.
  • Potensial kerugian minimal terhitung dari setiap item yang hilang.
  • Potensial kerugian optimal terhitung dari setiap item yang hilang + biaya operasional + potensial keuntungan dari item yang hilang.

BAB II Aturan Yang Mengikat

Ada 3 poin yang akan bahas dalam aturan yang mengikat.

  1. Pasal 362 KUHP
  2. Pasal 364 KUHP
  3. Restorative Justice

1. Pasal 362 KUHP

Dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), masalah pencurian diatur dalam pasal 362 KUHP: "Barang siapa mengambil barang, yang semuanya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memilikinya dengan melawan hukum, di hukum karena pencurian dengan hukuman penjara selama-lamanya 5 tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah."

2. Pasal 364 KUHP

Pencurian yang hanya dihukum 3 bulan, merupakan pencurian ringan. Mengenai hal ini diatur pasal 364 KUHP: “Perbuatan yang diterangkan dalam pasal 362 dan pasal 363 butir 4, begitu pun perbuatan yang diterangkan dalam pasal 363 butir 5, apabila tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, jika harga barang yang dicuri tidak lebih dari dua puluh lima rupiah, diancam karena pencurian ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak dua ratus lima puluh rupiah.”

3. Restorative Justice

Istilah Restorative Justice merupakan terminologi asing yang baru dikenal di Indonesia belakangan ini dengan istilah Keadilan Restoratif. Definisi restorative justice menurut Black’s Law Dictionary, yaitu:

“An alternative delinquency sanction that focuses on repairing the harm done, meeting the victim’s needs, and holding the offender responsible for his or her actions . . . Restorative justice sanctions use a balanced approach, producing the least restrictive disposition while stressing the offender’s accountability and providing relief to the victim. The offender may be ordered to make restitution, to perform community service, or to make amends in some other way that the court orders.”

Black’s Law Dictionary, 8th ed. (St. Paul, MN: West Thomson, 2004) s.v. “restorative justice”.

Dari definisi tersebut di atas, maka Keadilan Restoratif akan bertentangan dengan asas legalitas dan kepastian hukum (rechtzakerheid). Hal ini karena Keadilan Restoratif tidak berfokus pada hukuman penjara, melainkan pada bagaimana perbaikan/pemulihan keadaan korban pascaterjadinya suatu tindak pidana.

Dalam hal ini, pelaku tindak pidana dapat diwajibkan untuk membayar ganti rugi, melakukan kerja sosial, atau tindakan wajar lainnya yang diperintahkan oleh penegak hukum/pengadilan.

Pada intinya Peraturan Mahkamah Agung (“Perma”) No. 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan Dan Jumlah Denda Dalam KUHP (“Perma No. 2 Tahun 2012”), dikeluarkan oleh Mahkamah Agung untuk menyelesaikan polemik mengenai batasan nilai kerugian dalam suatu tindak pidana ringan, yang ditetapkan oleh Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) pada waktu dulu dan bagaimana penerapannya pada masa kini. Misalnya, dalam tindak pidana pencurian ringan (Pasal 364 KUHP), penggelapan ringan (Pasal 373 KUHP), penipuan ringan (Pasal 379 KUHP), dan lain-lain, yang semula nilai kerugiannya tidak lebih dari dua puluh lima rupiah dan penyesuaian maksimum penjatuhan pidana denda, yang dahulu sebesar dua ratus lima puluh rupiah, kini dilipatkangandakan menjadi 1000 (seribu) kali (Vide: Pasal 3 Perma No. 2 Tahun 2012)

Penyesuaian tersebut dilakukan dengan memperhatikan nilai emas pada saat KUHP peninggalan belanda, yang sebelumnya disesuaikan dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan nilai emas pada saat ini.

Sehingga dengan adanya penyesuaian tersebut, maka nilai barang atau kerugian dalam tindak pidana ringan, yang semula ditetapkan tidak lebih dari dua puluh lima puluh rupiah sekarang ditetapkan menjadi tidak lebih dari dua juta lima ratus ribu rupiah (Pasal 2 ayat [1] Perma No. 2 Tahun 2012).

Pengertian keadilan restoratif dapat merujuk pada ketentuan Pasal 1 angka 6 UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (“UU SPPA”) yang berbunyi sebagai berikut:

“Keadilan Restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.”

4. Definisi Pencurian

Unsur-unsur dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut terdiri dari

  1. Mengambil barang artinya perbuatan mengambil barang, kata mengambil dalam arti sempit terbatas pada menggerakan tangan dan jari-jari, memegang barangnya, dan mengalihkannya ketempat orang lain.
  2. Barang yang diambil artinya merugikan kekayaan korban, maka barang yang harus diambil harus berharga, harga ini tidak selalu bersifat ekonomis.
  3. Tujuan memiliki barangnya dengan melanggar hukum artinya tindak pidana pencurian dalam bentuknya yang pokok berupa perbuatan mengambil suatu benda yang sebagian atau seluruhnya adalah kepunyaan orang lain.

Tindak pidana pencurian dalam bentuk pokok seperti yang diatur dalam Pasal 362 KUHP diatas, terdiri dari unsur subjektif dan unsur objektif, yakni sebagai berikut :

Unsur subjektif:

Menguasai benda tersebut secara melawan hukum.

Unsur objektif:

  • Barang siapa;
  • Mengambil atau wegnemen yaitu suatu perilaku yang membuat suatu benda berada dalam penguasaannya yang nyata, atau berada di bawah kekuasaannya atau di dalam detensinya, terlepas dari maksudnya tentang apa yang ia inginkan dengan benda tersebut;
  • Sesuatu benda;
  • Yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain.

Menurut Simons yang dimaksud mengambil yaitu membawa suatu benda menjadi berada dalam penguasaannya atau membawa benda tersebut secara mutlak berada di bawah pengusaannya yang nyata, dengan kata lain, pada waktu pelaku melakukan perbuatannya, benda tersebut harus belum berada dalam penguasaannya.

Seseorang dapat dinyatakan terbukti telah melakukan tindak pidana pencurian sebagaimana yang dimaksud di atas, orang tersebut harus terbukti telah memenuhi unsur dari tindak pidana pencurian yang terdapat di dalam rumusan Pasal 362 KUHP.

Pasal 363 ayat (5) KUHP menyebutkan, Pencurian yang dilakukan oleh tersalah dengan masuk ketempat kejahatan itu atau dapat mencapai barang untuk diambilnya, dengan jalan membongkar, memecah atau memanjat atau dengan jalan memakai kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.

Tindak pidana pencurian sebagaimana diatur dalam Pasal 363 KUHP diatas mengandung unsur subjektif dan unsur objektif, yaitu sebagai berikut :

Unsur subjektif:

Dengan maksud untuk menguasai secara melawan hukum

Unsur objektif:

  • Barang siapa;
  • Mengambil yaitu setiap tindakan yang membuat sebagian harta kekayaan orang lain menjadi berada dalam penguasaannya tanpa bantuan atau tanpa izin orang lain tersebut, ataupun untuk memutuskan hubungan yang masih ada antara orang lain itu dengan bagian harta kekayaan yang dimaksud;
  • Sesuatu benda;
  • Yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain.

Unsur subjektif maksud untuk menguasai secara melawan hukum di atas itu merupakan tujuan artinya menguasai secara sepihak oleh pemegang sesuatu benda seolah-olah ia adalah pemilik dari benda tersebut, bertentangan dengan sifat hak, berdasar pada hak mana benda tersebut berada di bawah kekuasaannya.

Unsur benda yang dapat menjadi objek dari suatu pencurian itu tidak selalu harus berupa benda-benda yang mempunyai nilai, akan tetapi benda-benda seperti karcis, sebuah anak kunci dan lain-lain itu juga dapat menjadi objek dari kejahatan tindak pidana pencurian.

Apabila tindak pidana pencurian di dalam bentuknya yang pokok itu  telah dilakukan oleh pelakunya pada keadaan-keadaan yang memberatkan seperti yang disebutkan dalam Pasal 363 KUHP, maka tindak pidana pencurian itu mendapat suatu kualifikasi sebagai suatu salah satu unsur tindak pidana pencurian yang dapat memberatkan bagi para pelaku kejahatan tersebut.

BAB III Analisa Data dan Aturan

Eksklusifitas Konsumen

Menurut pengalaman saya sebagai seorang konsumen, pelayanan toko yang baik menjadi faktor penting dalam membatasi pergerakan shoplifters. Melalui pelayanan langsung dari karyawan toko salah satunya, membuat shoplifters tidak leluasa.

Eksklusifitas dan kebebasan pada konsumen dalam toko, menciptakan situasi yang seolah-olah memberikan kesempatan bagi konsumen yang bahkan di awal tidak mempunyai niat untuk melakukan shoplifting.

One of the most effective tools to prevent shoplifting is good store management

Dengan memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen, loss prevention juga sekaligus dapat ditingkatkan selain mendapatkan kepuasan konsumen dari pelayanan yang baik.

Analisa Data :

Costumer service yang baik untuk penerapan loss prevention :

  1. Jumlah pegawai yang cukup
  2. Buat pegawai mampu melayani semua calon pembeli dengan tanggung jawab masing-masing. Berapa sanggup tiap karyawan menghandle calon pembeli dengan optimal.
  3. Struk pembelian harus diberikan untuk setiap pembelian.
  4. Kasir bukan pelayan toko. Mereka bertindak sebagai pengawas pembeli yang keluar toko.
  5. Perlu prosedur untuk tas dan ransel pembeli di toko.
  6. Kasir mempunyai tanggung jawab pada pengecekan tag harga bila tertukar disengaja maupun tidak
  7. Yang paling penting untuk mencegah terjadinya shoplifting adalah dengan membuat para calon pembeli untuk merasa diawasi sehingga mereka sendiri hilang niat untuk mencuri karena resiko untuk tertangkap yang lebih besar

The idea is to make sure costumers aware of our presents

Sebagai seorang arsitek, saya melihat desain layout ruang berkaitan dengan masalah Loss Prevention dapat dengan memberikan nilai arsitektural yang utuh dan komprehensif terkait sirkulasi, aktivitas, area yang dihubungkan secara khusus mengenai masalah terkait sehingga dapat menghasilkan hasil optimal secara menyeluruh.

Namun untuk deskripsi secara detail, tentu memerlukan data aktivitas optimal, brand area, data security dan standar-standar lain yang menunjang aktivitas manusia di dalamnya.

Namun hal yang cukup penting untuk membuat calon pembeli aware akan pengawasan karyawan, adalah dengan diminimalisirnya blind spot di dalam ruangan. Baik itu dengan memperendah dengan ketinggian tertentu untuk item yang diletakkan di tengah ruangan atau membuat ruang dan sirkulasi yang simple dengan bentuk bangun dasar sehingga blind spot bisa diantisipasi.

Analisa aturan :

Menurut Simons yang dimaksud mengambil yaitu membawa suatu benda menjadi berada dalam penguasaannya atau membawa benda tersebut secara mutlak berada di bawah pengusaannya yang nyata, dengan kata lain, pada waktu pelaku melakukan perbuatannya, benda tersebut harus belum berada dalam penguasaannya.

Seseorang dapat dinyatakan terbukti telah melakukan tindak pidana pencurian sebagaimana yang dimaksud di atas, orang tersebut harus terbukti telah memenuhi unsur dari tindak pidana pencurian yang terdapat di dalam rumusan Pasal 362 KUHP.

Jadi ketika para calon pembeli memasukkan barang-barang toko ke dalam tas, kantung, dan lain-lain, hal ini tidak bisa dikategorikan sebagai shoplifting karena masih berada di dalam toko. Jadi setelah keluar toko baru kita bisa menghadapi langsung shoplifters tentang barang yang kita curigai bukan di dalam toko.

Rencanakan loss prevention policies menjadi bagian dari prosedur toko yang dijalankan setiap hari. Peningkatan costumer service untuk menunjang penjualan sekaligus meniadakan eksklusifitas pembeli di toko.

Seorang nenek dipenjara karena mencuri kayu jati di bekas lahan miliknya 9 maret 2015 dengan hukuman penjara 5 tahun. Hal seperti ini selayaknya dihindari. Restoratif Justice menjadi penting terutama untuk menjaga image toko yang bersahabat.

Menurut peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia nomor : 02 tahun 2012, pencurian barang dengan nilai dibawah Rp. 2.500.000 masih dianggap sebagai pencurian ringan dengan ancaman hukuman pencara maksimal 3 bulan penjara mengikuti pasal 364 KUHP. Sedangkan nilai diatas Rp. 2.500.000 terancam hukuman pidana maksimal 5 tahun menurut pasal 362 KUHP.

Jadi bagaimana cara menghadapi mereka?

Bagaimana cara mencegah terjadi pencurian

  • Mencegah situasi eksklusif konsumen
  • Kamera CCTV
  • Good service
  • Item-item kecil lebih baik di kasir
  • Modifikasi interior : minimizing blind spot
  • Random inspection
  • Architectural Insight

Item dan harga yang diperlukan – operasional cost

  • Good service – kualitas karyawan & kuantitas karyawan
  • Kamera CCTV
  • Modifikasi interior

Loss prevention adalah tindakan pihak toko untuk menghalangi tindakan pencurian barang di toko mereka melalui prosedur-prosedur toko yang harus komprehensif diimplementasikan dalam SOP toko sehari-hari selain dari infrastruktur yang dapat mendukung prosedur-prosedur ini dilakukan dengan efektif.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt519065e9ed0a9/penyelesaian-perkara-pencurian-ringan-dan-keadilan-restoratif

http://hukum.unsrat.ac.id/uu/kuhpidana.htm

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 02 TAHUN 2012

TENTANG PENYESUAIAN BATASAN TINDAK PIDANA RINGAN DAN JUMLAH DENDA DALAM KUHP

Black’s Law Dictionary, 8th ed. (St. Paul, MN: West Thomson, 2004)


ReplyQuote
Share:
  
Working

Please Login or Register